• (0435) 830678

Berita

Menjadi Pemateri di Semnas, Ini yang Disampaikan Wadek FH-UG

  • By Ismail Musa
  • 2019-02-06 02:57:49

Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Gorontalo (FH-UG) Dr. Roy Marthen Moonti, SH.,MH ditunjuk sebagai salah satu pemateri pada kegiatan Seminar Nasional (Semnas) dan Call of Paper dengan tema “Manajemen Perubahan Era Disruption”, yang digelar di Damhil Hotel, UNG Kota Gorontalo, Sabtu (2/2/19). Penunjukkan Dr. Roy Marthen Moonti sebagai salah satu pemateri pada kegiatan Semnas tersebut, tidak lain karena kapasitasnya sebagai Dosen Fakultas Hukum serta keilmuan yang dimilikinya terhadap pemahaman hukum di Indonesia. Dalam materinya, Dr. Roy Marthen Moonti mengulas dan mengkaji tentang Hukum Era Disrupsi, dimana materi ini terkait langsung dengan tema yang diangkat dalam Semnas.

Dalam paparannya Dr. Roy Marthen Moonti menjelaskan, inovasi distuptif dalam dunia profesi hukum, dimana era disrupsi adalah masa ketika perubahan terjadi sedemikian tak terduga, mendasar dan hampir dalam semua aspek kehidupan. Tatanan baru hadir menggantikan tatanan lama yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan zaman, misalnya dalam bidang hukum, dimana disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem hukum.

“Munculnya inovasi aplikasi teknologi digital akan menginspirasi lahirnya aplikasi dengan edukasi via berbagai media sosial, yang tidak saja lebih murah, akan tetapi juga memiliki daya jangkau audien yang jauh lebih luas dan merata,” jelasnya.

Dalam aktifitas profesi hukum untuk melakukan konsultasi dengan klien, Roy mengatakan, tidak perlu lagi harus datang atau bertemu dengan klien di ruang-ruang rapat, hotel, coffeshop, meeting room, yang harus membuang waktu dan mengeluarkan biaya mahal, akan tetapi cukup berkomunikasi baik dengan via WA, sms, telpon atau email.

“Selanjutnya untuk melakukan kajian dan pencermatan terhadap masalah-masalah klien yang berkenaan dengan masalah bisnis, tidak perlu bertemu tatap muka, cukup dengan melalui komunikasi telpol seluluer ataupun email, dengan cara inilah dapat cepat saling mentransmisikan buah pikiran masing-masing sampai terjadi satu pemahaman,” kata Roy. Begitu halnya dengan pengawasan tenaga kerja, cukup dengan monitor via CCTV, tidak perlu harus jauh-jauh turun kelapangan, namun cukup memberikan teguran secara online atau melalui atasan karyawan jika ada yang malas dalam menyelesaikan urusan pekerjaan yang menjadi tugasnya.

“Di era disruption ini juga kita akan menemukan beberapa law firm yang sudah menyediakan semua perangkatnya secara digital, misalnya sudah bisa diaksesnya semua profile para advokad, perkara apa saja yang bisa ditangani, perkara yang berhasil ditangani, serta honorarium setiap advokad yang ada law firm tersebut, sehingga masyarakat akan dengan mudah mencari akses keadilan,” tuturnya. Bahkan di era disruption ini juga, lanjut Roy, tidak menutup kemungkinan akan menemukan robot berdasi yang akan mampu menjawab seluruh pertanyaan klien.

“Pada intinya dengan adanya disruption ini, ada orang yang menganggap itu sebuah peluang dan ada juga yang menganggap ini adalah sebuah ancaman, olehnya kita harus mampu memahami apa yang dimaksud dengan era disrupsi kaitannya dengan profesi hukum ini,” tutupnya. (hmsug)